Postingan

Tentang Sesuatu

Indera kita terbatas, bisa jadi melihat banyak hal tapi sedikit mengerti, menerima banyak hal tapi tak cukup memahami. Kita butuh orang lain. Butuh penerjemah hal-hal yg masih buta dimata kita, butuh seseorang untuk mengatakan apa yg masih tersembunyi dan memberitahu apa yg seharusnya. Memori kita terbatas, bisa jadi kita hanya mengingat hal2 buruk dan menyepelekan hal-hal baik, yg memang terlalu kecil dan remeh untuk diingat. Tapi lagi-lagi kita butuh seseorang. Yg menjadi brangkas dari cerita-cerita kita. Pun kita juga sama menyediakan telinga bagi mereka. Menjadi penegur tapi tak melebur, menjadi pengingat tapi juga tak menghujat. Kita hanya sama2 menjadi mulut tapi juga tak menyulut-nyulut.  Lagi-lagi, berbagi tak semudah itu. Ada percaya didalamnya, ada janji yg terkadang menjadi bumbu cerita, ada luput yg tak sengaja disebut dan hal hal lain yg membuatnya tak jadi sederhana.  

ADHD

Istilah menarik yang baru aku tahu dari salah satu teman jurusan kedokteran. Berawal dari rasa penasaranku dg murid yang baru aku ajar sekitar 2 mingguan ini. Tawaran dadakan ngajar anak TK benar2 sudah ku hindari. Semenjak libur lebaran aku berulang kali bilang ke ibu "ngajar apapun mau asal bukan anak TK atau PAUD". Aku akui, aku ga sesabar ibu yg dulu pernah ngajar TK bertahun2. Aku gemes (gregetan) liat anak kecil yang nyuekin kita kalo lagi kita ajak ngobrol, atau tiba-tiba nangis tanpa sebab. Kita kan jadi ngerasa bersalah. Tapi entahlah mungkin Allah memang nyuruh buat belajar. Bbrp minggu lalu dapet tawaran ngajar anak TK. Slalu, lagi-lagi kelemahanku adalah menolak tawaran. Aku slalu tidak enak menolak tawaran mengajar. Rasa-rasanya kaya aku menolak buat berbagi. Akhirnya tawaran aku terima karena memang via telfon, jadi keputusan harus diambil cepat2. Lagi pula tempatnya dekat, seminggu 2 kali dan tiap pertemuan cuman satu jam. Tidak bakal nganggu skripsi kok. Bat...

Pernah Dicipta Sastra

Dalam sastra aku mendekatimu Lewat huruf aku mengejamu Tanpa ranah aku melangkah Lengah sedikit kau buat suka Sastra pun, pernah dicipta Sebait tapi pahit Pernah manis tapi kau lumat habis Pernah indah tapi kau sia-sia Ternyata, lagu pernah kau sembah Lugu pernah kau pinta Gugu pernah berkelana Dalam dada dan detak nafas yg terengah-engah Tapi sastraku semu Dan basi karena jenuh Tak ada nafsu Lalu musik slalu mengusik Nadapun membuatmu beku Supaya suara memeluk sukmamu Dan irama menghangatkannya Kini sastraku tak lagi laku Melodi membawaku jauh Terbawa pada bait2 nada Terselip dalam sebaris ritma Menghilang dalam naskah Dan tiada

17%

Semalam. Saat letupan kembang api dan petasan yg saling bersahutan. Saling berlomba menebar pesona. Memancing setiap mata untuk melihat. Kemudian, lampion2 siap dinyalakan. Tak jauh dari tanganku kurasakan hangat api diantara udara yg tak dingin. Tak ada angin. Hanya ada sepoi dari kipas angin pembakaran ikan. Rerumputan tetap basah walau berhari2 tak hujan entah karena ludah2 atau cipratan air kolam. Malam itu, aku sengaja membungkusmu rapi. Dalam suatu tempat yg mungkin mataku tak dapat melihat atau tanganku tak dapat menjangkau. Tapi aku ingat betul dimana dia kijejerkan rapi untuk kupersiapkan. Iya, semalam ada 2 hal yg benar2 ingin kumusnahkan. Entah kubakar atau kutenggelamkan. Tapi urung. Aku ingin menyimpannya saja. Kelak akan kutemukan cara yg lebih kejam. Mungkin akan kulakukan. Biarkan. Sekarang biarkan saja. 2 hal itu akan menjelma menjadi sesuatu yg mungkin tak terduga.

Teks Komersial (3)

Sudah semakin larut. Para ta'ziyah mulai sepi. Sayup-sayup masih ada bacaan yasin pada ayat-ayat terakhir. Terlihat kepulan asap mulai menggumpal di pojok gardu. Bapak-bapak sudah bersiap untuk begadang.  Ada budaya yg sampai saat ini dipegang. Setiap ada yg meninggal, maka rumahnya tak boleh tertutup sepagi-siang-malam. Harus ada yg begadang. Katanya, 7 hari pertama sampai 40 hari, ahli kubur selalu mengunjungi rumah, melihat bagaimana keadaan yg ditinggalkan. Apakah mereka memberi hadiah fatihah atau mengabaikan.  Aku masih sibuk membereskan buku yasin diruang tamu. Beberapa gelas dan piring juga mulai disingkirkan. Digantikan dengan cangkir dan teko yg berisi kopi.  "Nduk, tadi siapa?" Mbak dyah menepukku. Sedikit mengagetkan memang.  "Siapa yg mana mbak?" Tanyaku pura-pura tidak tahu. Sembari meneruskan menumpuk buku yasin di dalam lemari.  "Yg tadi pakai peci putih. Ganteng lo orangnya" sambil cekikin sendiri dan senggol2. "Ohh t...

Teks Komersial (2)

Sudah seminggu, aku sengaja bersikap dingin padamu. Mulai dari menolak ajakan2 kecil seperti makan sampai nonton atau sekedar jalan2 ke mall. Ajak aja wanita itu, pikirku. Aku masih hanyut pada perasaan marah dicampur dengan cemburu. Aku seperti menjadi orang bodoh selama ini. Terperdaya oleh rasa yg kamu bangun dan tak berdaya juga saat rasa itu tiba-tiba kau hancurkan. Karena aku baru memulai semuanya. Penerimaan, pengertian, dan semua hal yg tak kusuka darimu aku sudah mencoba menerimanya. Sore ini aku mendapat kabar duka bahwa nenekku meninggal Mendengar kabar ini ada rasa duka dan suka karena sejenak aku bisa menghilang dari hidupmu. Tanpa berkabar aku sudah dalam perjalanan terbang ke surabaya. Sore itu, bandara terlihat terang tak berawan juga tak ada tanda2 hujan. Aku sengaja mematikan handphone sejak pagi tadi. Aku terlambat pada upacara pemakaman nenek. Karena surabaya hujan, jadi nenek dimakamkan dengan segera. Beruntung, surabaya merupakan salah satu kota yg blm kita...

teks komersial

Malam ini sorot lampu mobil dan motor sedikit redup tertutupi hujan. Hawa dingin sedang menyoba menyelip disela-sela kaca. Butuh kehangatan juga. Lalu daun dan tanah hanya terpaksa menengadah rintiknya. Sama denganku, hanya terpaksa untuk tak jatuh. Aku sedang tersenyum membaca pesan singkatmu yg memintaku untuk tak lupa mandi walau sedang hujan disertai dengan emot mesra seperti biasa. Ah aku sudah biasa. Membaca tulisan dari tangan kananmu. Sedang tangan kiri sedang membelai tangan wanita lain. Atau sedang saling menatap dan menyantap eskrim dalam 1 cup. Lalu tak sengaja kaki kalian saling menyenggol dan merapat. Seakan meminta untuk tak lepas karena Hawa sedang panas. Malam itu, aku tak sengaja melihatmu dengan wanita yang warna bibirnya masih kuingat sampai sekarang. Seperti lipmate wardah nomor 2. Kulihat warnanya tak lagi cerah. Mungkin sudah terhapus hujan atau terhapus oleh bibirmu. Aku hanya tersenyum dari jauh. Berharap hujan sedang membantuku menyelipkan pilu. Lalu, beberap...