Postingan

Deep talk

Sendiri dan sepi adalah paket yg pas untuk bermuhasabah diri. Memetakan mana hal-hal yang masih harus diperjuangan, mana pula yang memang sudah waktunya direlakan. Beberapa hal memang tidak bisa kita atur, tak bisa kita kendalikan termasuk rasa. Umurku masih hampir 23. Beberapa teman sudah menikah bahkan sudah hampir 80% teman SDku sudah berkeluarga. Sedang diriku, berlabuh saja masih ragu-ragu. Aku menyadari bahwa aku sudah bukan anak-anak lagi. Pun juga aku masih mengelak bila ada yang mengatakan aku sudah dewasa. Beberapa orang menasehatiku untuk tak menjadi pemilih. Sedang diriku selalu bertanya-tanya, bagaimana aku memilih apabila pilihannya saja tidak ada. Aku bukan tipe yg neko-neko. Aku hanya sendiko dawuh sama perkataan orang tua. Sayangnya, sampai sekarang orang tuaku juga masih santai. Kok "sayangnya ya?" kaya sudah ngebet banget. Haha Sejujurnya kalau aku bertanya pada diriku sendiri, aku belum siap. Aku membayangkan bahwa menikah bukan hanya masalah kita berba...

Tentang Larangan

Beberapa menit lalu banyak tulisan yg 'kutulis, kuhapus, kutulis lagi, kuhapus lagi'. Menulis bukan menjadi 'rekreasi'ku lagi. Dulu, aku cukup merasa damai ketika membiasakan diri selalu menulis sebelum tidur. Menurutku, menulis itu wujud refleksi, yg terkadang daripadanya kutemukan banyak sekali hal yg telah terlalui secara 'baik-baik' saja. Tetapi justru aku terusik dg hal kecil yg membuat gelisah. Kecil sekali. Tapi cukup.  Hari ini, aku berhasil melarang temanku untuk tak langsung marah pada kekasihnya yg terlambat menjemputnya. Karena aku pernah mengalaminya. Berpura-pura baik-baik saja itu menyakitkan. Pun berniat agar orang yg kita marahi itu sadar dan meminta maaf itu juga menyesakkan. Jadi keduanya sama saja.  Kata seseorang, kita hanya butuh momentum. Iya, kita harus marah disaat yg tepat. Aku pernah marah disaat yg kurang tepat jadi aku melarangmu supaya tak sepertiku.  Karena sejatinya, yg kita perlukan hanyalah menarik napas lebih dalam. Mem...

Tulisan tak Bernyawa

Entah ini peluh keberapa yang tak sengaja terlinang. Sebenarnya, masih berada di penghujung mata yang dengan mati-matian kutahan. Tapi akhirnya tak tertahankan. Jujur, tanpamu, aku sudah kehilangan banyak kosa kata. Kata-kataku menjadi tak bernyawa. Pun juga diriku tak lagi manis dan tak bisa romantis. Kenapa aku menjadi gugu seperti ini. Jari-jariku seperti kaku. Otakku membeku.

Tentang Sesuatu

Indera kita terbatas, bisa jadi melihat banyak hal tapi sedikit mengerti, menerima banyak hal tapi tak cukup memahami. Kita butuh orang lain. Butuh penerjemah hal-hal yg masih buta dimata kita, butuh seseorang untuk mengatakan apa yg masih tersembunyi dan memberitahu apa yg seharusnya. Memori kita terbatas, bisa jadi kita hanya mengingat hal2 buruk dan menyepelekan hal-hal baik, yg memang terlalu kecil dan remeh untuk diingat. Tapi lagi-lagi kita butuh seseorang. Yg menjadi brangkas dari cerita-cerita kita. Pun kita juga sama menyediakan telinga bagi mereka. Menjadi penegur tapi tak melebur, menjadi pengingat tapi juga tak menghujat. Kita hanya sama2 menjadi mulut tapi juga tak menyulut-nyulut.  Lagi-lagi, berbagi tak semudah itu. Ada percaya didalamnya, ada janji yg terkadang menjadi bumbu cerita, ada luput yg tak sengaja disebut dan hal hal lain yg membuatnya tak jadi sederhana.  

ADHD

Istilah menarik yang baru aku tahu dari salah satu teman jurusan kedokteran. Berawal dari rasa penasaranku dg murid yang baru aku ajar sekitar 2 mingguan ini. Tawaran dadakan ngajar anak TK benar2 sudah ku hindari. Semenjak libur lebaran aku berulang kali bilang ke ibu "ngajar apapun mau asal bukan anak TK atau PAUD". Aku akui, aku ga sesabar ibu yg dulu pernah ngajar TK bertahun2. Aku gemes (gregetan) liat anak kecil yang nyuekin kita kalo lagi kita ajak ngobrol, atau tiba-tiba nangis tanpa sebab. Kita kan jadi ngerasa bersalah. Tapi entahlah mungkin Allah memang nyuruh buat belajar. Bbrp minggu lalu dapet tawaran ngajar anak TK. Slalu, lagi-lagi kelemahanku adalah menolak tawaran. Aku slalu tidak enak menolak tawaran mengajar. Rasa-rasanya kaya aku menolak buat berbagi. Akhirnya tawaran aku terima karena memang via telfon, jadi keputusan harus diambil cepat2. Lagi pula tempatnya dekat, seminggu 2 kali dan tiap pertemuan cuman satu jam. Tidak bakal nganggu skripsi kok. Bat...

Pernah Dicipta Sastra

Dalam sastra aku mendekatimu Lewat huruf aku mengejamu Tanpa ranah aku melangkah Lengah sedikit kau buat suka Sastra pun, pernah dicipta Sebait tapi pahit Pernah manis tapi kau lumat habis Pernah indah tapi kau sia-sia Ternyata, lagu pernah kau sembah Lugu pernah kau pinta Gugu pernah berkelana Dalam dada dan detak nafas yg terengah-engah Tapi sastraku semu Dan basi karena jenuh Tak ada nafsu Lalu musik slalu mengusik Nadapun membuatmu beku Supaya suara memeluk sukmamu Dan irama menghangatkannya Kini sastraku tak lagi laku Melodi membawaku jauh Terbawa pada bait2 nada Terselip dalam sebaris ritma Menghilang dalam naskah Dan tiada

17%

Semalam. Saat letupan kembang api dan petasan yg saling bersahutan. Saling berlomba menebar pesona. Memancing setiap mata untuk melihat. Kemudian, lampion2 siap dinyalakan. Tak jauh dari tanganku kurasakan hangat api diantara udara yg tak dingin. Tak ada angin. Hanya ada sepoi dari kipas angin pembakaran ikan. Rerumputan tetap basah walau berhari2 tak hujan entah karena ludah2 atau cipratan air kolam. Malam itu, aku sengaja membungkusmu rapi. Dalam suatu tempat yg mungkin mataku tak dapat melihat atau tanganku tak dapat menjangkau. Tapi aku ingat betul dimana dia kijejerkan rapi untuk kupersiapkan. Iya, semalam ada 2 hal yg benar2 ingin kumusnahkan. Entah kubakar atau kutenggelamkan. Tapi urung. Aku ingin menyimpannya saja. Kelak akan kutemukan cara yg lebih kejam. Mungkin akan kulakukan. Biarkan. Sekarang biarkan saja. 2 hal itu akan menjelma menjadi sesuatu yg mungkin tak terduga.